Langsung ke konten utama

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 1

Aku berjalan menuruni anak tangga, melewati lobby dan sebelum tanganku mendorong pintu gedung rektorat, 
"Misi jangan di tengah jalan ah." 
Aku tertawa kecil, ah dia lagi. Langit di luar memang sedang mendung, tak heran karena sinar mataharinya ada di sini. Dia menyerobot langkahku dari belakang kemudian membenarkan letak headsetnya, membukakan pintu tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Seperti biasa, manusia ini seorang romantis yang sengaja menutup diri agar terkesan jual mahal.
"Kali ini usai presentasi dari mana lagi?" 
Baiklah, lagi-lagi ia berpura tak peduli. Mengajukan pertanyaan tentang kepeduliannya sembari berjalan cepat di depanku, seolah tak peduli sama sekali.
"SMA 11, Semarang aja." jawabku singkat dengan harapan ia mengajukan pertanyaan lagi, karena aku selalu suka menjawabnya.
"Dan sangat perlu berdandan semenor itu?"
"Aku hanya menebalkan sedikit eyeliner..."
"Tapi kamu memakai bedak." 
Cara mengatakannya lucu sekali, aku masih tak menangkap pesan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
"Hei semua perempuan selalu mengenakannya." Aku tertawa.
"Oh iya aku tidak membalas komenmu di istagram ya." Hmm dia mengalihkan pembicaraan, dasar.
Aku tertawa kecil dengan disambung "iya, bahkan komenmu di fotoku juga tidak aku balas."
Dia diam dan tetap berjalan, kali ini tempo langkah kakinya lebih lamban. Seperti ingin aku berada lebih lama di dekatnya, aku rasa. Aku tanyakan mau kemana ia bilang mau makan siang. 
Namanya Bumi, aku Venus. Kita ditakdirkan bersebelahan bahkan sebelum semesta diciptakan.
"Dengan perempuan yang mana? Yang menjadi semua objek tulismu?" 
Aku menaik-naikan alis, meminta jawaban darinya. Dia tertawa, manis.
"Iya, kamu belum makan kan?"
.
.
--bersambung--
.
#katadhyanara
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1701
.
Lihat fotonya di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas Cinta

Tempo hari aku ikut Kelas Cintanya Lex de Praxis, sebenernya bukan karena kehidupan percintaanku kenapa-kenapa banget. Lebih sekadar penasaran materi yang membahas cinta itu kayak gimana modelnya. Rame banget yang dateng. 

Seperti seminar kebanyakan, materi yang disampaikan pasti ada yang bikin kita setuju mengiyakan atau bahkan tidak percaya sama sekali. Dari sekian banyak yang tidak kupercayai sama sekali, ada beberapa hal yang bikin otakku mikir untuk pertama kali.Kalimat-kalimat yang tadinya cuma aku baca di novel atau tahu dari film, saat itu aku bener-bener mencoba mengerti hingga mencerna dengan hati.
Pertama, adalah cinta itu hubungan dua arah. Kalo kita udah usaha buat mendapatkan perhatian tapi dia sang pujaan tidak kembali melakukan hal yang sama, maka berhentilah berharap. Aku rasa tadinya mengharapkan sesuatu yang miliki sedikit kemungkinan untuk terwujud memang membutuhkan waktu lebih lama. Seperti lebih lama berjuang, mungkin juga lebih lama berkorban. Tapi jika dipikir-p…

Tidak Salaman

Aku tahu sebenernya lebih banyak orang yang merasa terganggu ketika aku memutuskan nggak salaman sama laki-laki. Banyak banget. Mulai dari yang bilang langsung sampai yang aku denger waktu mereka ngomongin di belakang. Hehe.

Ketika meeting, atau ke acara yang mengharuskan aku ketemu laki-laki aku selalu berusaha sebisa mungkin sebelum laki-laki nyodorin tangan aku udah angkat dua tanganku di depan dada. Aku juga nggak enakan kali kalo laki-laki itu pada kecelik pas aku lupa nduluin menangkupkan dua tangan di depan dada.

Tapi buat aku itu bukan masalah. Setiap orang punya keyakinannya terhadap sesuatu masing-masing.

Ada orang yang nanya, bajuku itu kan nggak syar'i kayak ukhti-ukhti kenapa nggak mau salaman sama laki-laki? Ya karena aku memilih untuk itu:)


#katadhyanara

Kamu Nggak Akan Pernah Ngerti

Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu tidak pergi, apa kamu akan tetap tinggal? Jika aku bilang merindukanmu, apa iya kamu akan langsung terbang? Kembali ke titik pertemuan?
Maaf kalau aku bertindak biasa saja. Dalam pertemanan tanpa ikatan, memangnya aku bisa apa? Jika aku memintamu lebih sering menghubungiku, apa kamu punya waktu untuk itu? Jika aku bilang aku membutuhkan hadirmu, apa iya kamu percaya begitu saja? Kamu pasti hanya tertawa.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena berteman denganmu tidak terlihat beda dengan berteman pada lainnya. Sehingga membuatmu yakin bahwa aku tak main-main tentu mustahil. Membuatmu tahu peduliku selama ini saja aku tidak biarkan. Membuatmu tahu aku memendam rindu yang besar, apalagi. Sungguh pantangan.
Sulit juga menyimpan rasa lama-lama. Karena revolusi kita yang tidak berjarak dekat, sepertinya menjadi teman biasa adalah satu-satunya cara. Sehingga bisa membuat kita lebi…