Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 45

"Boleh aku panggil kamu Binar aja nggak? Nggak usah pake kak gitu?" Aku menatap matanya, benar-benar ada binar di mata Plu. Kepalanya sedikit ia majukan ke arahku, meminta jawaban. Sedari awal mengajak berkenalan, anak ini tidak tersenyum sama sekali. Mendengar pertanyaannya aku tertawa.
.
"Umur kamu dua belas tahun? Memangnya kamu lebih tua dari aku?" Aku masih tertawa. Pluto masih tidak tersenyum, wajahnya terkesan serius. Aku melanjutkan pertanyaanku.
.
"Umur kamu berapa sih?"
.
"Delapan tahun." Aku berhenti tertawa. Frekuensi detak jantungku meningkat sedikit. Plu masih dengan wajah tanpa ekspresi, menatapku lekat-lekat. Pandangannya seperti masuk menembus syaraf mataku, menelisik masuk ke paru-paru sehingga nafasku berhenti seper berapa detik. Kenapa sih anak kecil ini? Seperti ada sesuatu sekecil planet Pluto dalam rengkuhan semesta yang mencuri degup jantungku. Aku mulai tertarik untuk berteman dengannya.
.
"Hmm kalau begitu panggil aku Venu…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 44

Kenalkan, ini Pluto. Aku biasa memanggilnya Plu. Adik tingkat dua tahun di bawahku. Kami sudah berteman sejak Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau SD. Sedari kecil tingkah lakunya selalu manis, semanis coklat-coklat yang hampir tiap jam istirahat Plu selipkan di laci tempat dudukku. Bedanya, tanpa dimasukkan dulu ke lemari es dia sudah sedikit dingin.
.
Plu punya darah Cina memang, matanya sipit. Kulitnya juga lebih putih dibanding kulit anak laki-laki lain. Ditambah lagi dia tidak suka bermain bola di lapangan bersama teman-temannya, Pluto kecil lebih suka ikut les menyanyi.
.
Pernah suatu hari ketika aku kelas empat MI, Bumi mengikuti olimpiade sedangkan Mars tidak masuk sekolah karena cacar air, saat jam istirahat aku duduk sendirian di taman sekolah. Hanya duduk memangku kotak bekal berisi dua lembar roti tawar dengan selai kacang kesukaan Bumi sambil melihat anak-anak lain bermain jungkat-jungkit, petak umpet, ada juga yang bermain pasaran. Sengaja bukan roti tawar berlapis keju seperti set…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 43

Rasanya langit benar-benar runtuh, menghantam inti Bumiku. Hatiku benar-benar sakit.
.
Pluto berukuran sangat kecil dibandingkan​ planet-planet lainnya. Diameternya hanya setengah diameter Merkurius, atau dua pertiga diameter Bulan. Bidang orbitnya juga sangat menyimpang. Apa yang istimewa darinya?
.
​Aku kembali menghadap laptopku. ​Telunjuk kananku mengarahkan kursor ke arah draft email yang baru saja aku tulis. Melewati kolom penerima dan subject, menyapu kolom badan email, mengarah ke kanan bawah, mencari tombol bergambar tong sampah. Discard draft, klik!
.
Draft panjang itu benar-benar aku hapus. Meskipun tidak sampai akhir, terimakasih sudah hadir, Binar.
​.
Venus mengangkat tangannya, mengisyaratkan memanggil waiter. Sebelum waiter menghampiri meja mereka...
.
"Hot Coffee Latte, واحدة"
.
​Venus memesan secangkir Coffee Latte panas! Hei apa maksudnya? ​Aku membalikkan badanku ke arah meja mereka berdua. Masih dengan satu tangan yang diangkat, ia menatapku dan.. tersenyum!
​.
​.​
-10 …

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 42

Jantungku berdegup kelewat cepat, sampai-sampai sinkronisasi paru-paru dan oksigen yang aku hirup sedikit berantakan. ​Maaf aku ralat, sangat berantakan malah. Itu suara yang tidak asing di telingaku. Suara yang benar-benar aku ingin dengar selama tiga tahun belakangan ini.
.
Aku tidak mungkin salah, itu suara Venus!
.
​Aku yang tadinya membelakangi Pluto dan pintu masuk kafe, secepat kilat aku berbalik. Aku merasakan ada gelombang yang... Venus memakai gamis hitam ditutup outer bercorak warna cream dengan jilbab warna senada dengan outernya, di sini para perempuan lebih banyak memakai pakaian dengan warna-warna gelap. Oke aku belum menyelesaikan kalimatku, aku merasakan ada gelombang yang.. memancar tapi bukan menujuku.
.
"Untung kamu cepet dateng Ven, hampir-hampir pulsaku habis menelfonmu."
.
Pluto mematikan panggilan di ponselnya.
.
Venus melangkah menghampiri Pluto dan langsung duduk di hadapannya, ia mengambil red velvet yang tadi dipesan Pluto untuk mencium aromanya, tersenyum …

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 41

Tiba-tiba lonceng pintu kafe kembali berbunyi.
.
Aku melanjutkan menulis email tanpa ingin tahu siapa yang barusan datang. Aku melanjutkan mengetik.
.
​​Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
​.​​
"Bulan depan aku pulang ke Indonesia, setelah bertemu kak Awan yang sudah dua setengah tahun pulang dari menempuh studi S2nya di Australia dan tentu saja mama di rumah, aku akan langsung mampir ke rumahmu. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Ada sesuatu yang benar-benar penting yang ingin aku tanyakan. ​D​ari dulu aku tidak pernah memperlihatkan kepedulianku secara terang-terangan. ​T​idak pernah membiarkan​ ​seorangpun tahu mengenai apa yang aku rasakan. ​Mungkin memang​ dari dulu​ perasaanku adalah ​​satu-satunya ​rasa yang tak pernah cukup sampai ke hatimu.​ ​Orang-orang hanya sebatas tahu bahwa aku baik-baik saja, tidak sedih, pun bahagia. Setiap orang memiliki sejarahnya masing-masing, dan aku memiliki sejarah yang begitu kuat mengenai satu hal. Mengenai apa yang aku benar-bena…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 40

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
​"​Tidak datang ke kafe ini mungkin akan lebih baik daripada aku mengerti bahwa seseorang yang jangan-jangan adalah Pluto juga memesan red velvet.
.
​Sebentar lagi masuk bulan Ramadan. Kamu ingat kisah tentang si curang Ven? Saat kelas empat Madrasah Ibtidaiyah ​bulan Ramadan, aku, kamu, dan Mars menyelinap ke luar pagar sekolah. Setelah kamu menangis karena haus, aku dan Mars berusaha membelikan minuman di luar sekolah karena semua kantin di sekolah tutup selama bulan puasa. Tapi kamu memaksa ingin ikut. Sesampainya di warung sebelah sekolah dengan aman tanpa ketahuan ustadz maupun ustadzah, kamu dan Mars membeli es jeruk. Kamu ingat kan es jerukmu langsung habis? Sedangkan es jeruk yang mau diminum oleh Mars aku rebut, karena aku ingin Mars tetap mempertahankan puasanya sampai maghrib bersamaku. Tapi kamu masih ingat dua detik kemudian setelah adegan ini kan? Yap, ustadzah Mentari memergoki keberadaan kita bertiga di warung saat aku…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 39

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
​Bukannya sudah tidak menaruh hati, aku hanya sedang berhenti memperlihatkannya.
.
Bapak tua yang tadi sedang membaca koran barusan meninggalkan kafe berbau vintage dengan dominan berwarna coklat ini. Ia membuka pintu dan meninggalkan bunyi lonceng tanda pintu kafe dibuka. Di sini tinggal kami berdua. Aku dan seseorang yang aku yakini adalah Pluto, bisa jadi juga bukan.
.
Aroma red velvet tiba-tiba tercium begitu kuatnya. Tidak, ini bukan aroma secangkir red velvetku yang sepertinya sudah tak lagi panas. Ini aroma secangkir red velvet yang baru saja dibuat dengan tingkatan air panas yang begitu pas, seperti pesananku tadi saat dihidangkan seorang waiter berjenggot panjang dan sedikit botak pada rambut bagian depan. Benar, aku melihat waiter yang sama lagi keluar dari dapur membawa nampan dengan satu tangan. Tapi akan diberikan kepada siapa? Hanya ada dua pengunjung di sini, dan aku sudah mendapatkan pesananku.
.
Sang waiter menghidangkan secan…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 38

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Karena kamu adalah planet favoritku, aku menyukaimu sebesar rasa yang tak cukup masuk ke rongga dadaku.
.
Aku melihat ke luar jendela kafe, matahari semakin menyengat. Memesan minuman dingin pasti begitu nikmat, namun aku tetap memilih minuman hangat kesukaanmu. Selama aku mengetik email ini, sesekali aku menatap cangkir putih yang sengaja aku letakkan di meja depanku, posisinya sejajar dengan kursi di hadapanku. Andai kamu berada di sini Ven.
.
Minggu depan adalah waktu terakhir bagi mahasiswa angkatanku untuk mendaftar wisuda. Tenang, masih minggu depan, karena itulah aku terbang ke Madinah untuk mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk pengejaran target tugas akhir di Makkah. Dua hari lagi aku akan kembali ke kota Thuwal Makkah dan sesegera mungkin menyelesaikan urusan-urusan administratif sebelum diwisuda dari universitas berbasis riset skala internasional. Sebagai universitas dengan dana abadi terbesar kedua di dunia setelah Harvard, ke…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 37

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Laki-laki itu adalah Pluto, adik kelas di Madrasah Ibtidaiyah (SD) dua tingkat di bawah kita yang seringkali memberikanmu coklat tiap jam istirahat. Ya, Pluto. Seperti nama planet paling kecil di rengkuhan tata surya kita. Dia jugalah sosok paling muda yang masuk ke dalam putaran kehidupanku denganmu Ven. Kamu tentu masih mengingatnya.
.
Baiklah aku akan mulai masuk ke inti dari email yang aku tulis ini. Maaf selama aku di sini, aku menghilang dari revolusi. Aku sengaja bersembunyi. Mungkin kamu bisa anggap aku egois karena hanya memikirkan pencapaianku dan mengabaikan Bima Sakti. Aku tahu Ven, semesta terus berputar, terus berkembang meluas. Begitupun denganmu, kamu akan mengenal planet-planet lain di luar tata surya kita. Aku ingin kamu tidak hanya berputar di antara Merkurius, Bumi, Mars, dan Saturnus. Mungkin dengan kehilanganku, kamu sudah bisa menemukan Yupitermu, Uranus, hingga Neptunus. Bahkan tak sengaja aku melihat Plutomu di sin…

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 36

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Dan setiap orang-orang memanggil namaku, aku mengingatmu...
.
Pagi-pagi begini kafe masih teramat sepi. Hanya ada dua pelanggan selain aku di sini. Yang pertama adalah bapak-bapak tua berkulit cokelat gelap yang sedang menyeduh kopinya sembari membaca koran di meja dekat jendela. Satunya lagi adalah laki-laki berkemeja rapi seumuranku sedang serius bicara melalui ponselnya. Wajahnya tampan dengan mata sipit layaknya orang Cina. Aku..seperti mengenalnya.
.
Ada banyak hal selama ini yang ingin aku ceritakan. Kelewat banyak, malah. Semua yang ingin aku sampaikan tertulis di sebuah jurnal berwarna cokelat, tujuannya agar aku tidak lupa. Aku menulis jurnal itu semenjak semester pertama ketika kuliah di Semarang. Kamu menjadi orang yang selalu ingin membaca tulisan-tulisan di jurnalku. Karena itulah senang sekali bisa mendiskusikan tulisan-tulisanku kepadamu, aku merasa ada gelombang yang sama frekuensinya keluar dari otak kita. Ada banyak sekali …

Cerita Bersambung #RotasiBimaSakti Episode 35

Teruntuk Venus, lanjutan draft email dari Bumi:
.
Toh aku jadi gelisah, apakah memang harus aku sampaikan atau tidak.
.
Di sini, ketika aku menulis email panjang ini di laptop ungu yang kulapisi garskin warna biru, jam tangan digital yang menggelangi tangan kiriku menunjukkan pukul 8.15 pagi, di Semarang mungkin sekitar pukul 12 siang. Apa yang sedang kamu lakukan Ven? Kamu sudah makan siang? Mengingatmu susah sekali diajak makan, apakah kamu sehat-sehat saja?
.
Seusai wisuda S2 kemarin aktivitas apa saja yang kamu lakukan sekarang? Atau bagaimana rasanya merampungkan kuliah S2? Tiga kali merasakan bulan Ramadan di sini aku baru menyelesaikan pendidikan S1 ku, beruntung aku bisa mengurus data-data pindahan. Kau tahu Ven, sekarang aku duduk di kursi kayu, mencondongkan badanku ke arah meja kayu berarsitektur vintage. Di sebelah kiri laptopku berserakan kertas-kertas, di atasnya terdapat pulpen pemberianmu dari bahan alumunium berwarna biru, yang juga bertinta biru. Dengan corak garis keemasa…