CIUMAN


Pada suatu matahari yang menyore tak sengaja kita bersapa di diagonal bumi yang sama, lagi. Dalam keentahan yang berkali lipat, kerinduanku menggunung terhadap kamu yang jelas miliki pikat. Hingga akhirnya mata kita beradu, rinduku ini tak bisa juga meletus. Kepura-puraan pura-puraku tidak mencintaimu agaknya sudah terlalu hingga aku terlarut pada situasi yang seolah-olah. Mana kamu tahu jika aku mencintaimu?
Sebenarnya aku tidak pernah memikirkanmu. Sama sekali. Hanya saja seringkali tiba-tiba ada kamu di kepalaku. Di diagonal yang sama, aku sudah bilang mata kita beradu, namun masih ada tujuh langkah kaki kita untuk saling bersatu. Detik waktu benar-benar melambat sampai-sampai aku bisa banyak berpikiran mengenai kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan kamu katakan kepadaku ketika langkah kita sudah sama-sama buntu karena kaki yang berhadapan. Aku sudah menyunggingkan senyumku sejak berputar melewati taman ini, karena tentu aku melihatmu. Makanya aku memotong jalan di persimpangan karena kamu memang selalu melewati jalan yang sama. Apalagi yang tidak aku tahu darimu? Hanya ada satu, perasaanmu kepadaku.
Kita barusan sama-sama menghabiskan satu langkah untuk mendekat, gerakan tanganmu yang membenarkan letak tas punggung begitu saja sudah benar-benar bisa buatku mengagum. Masih tanpa menyungging senyum kamu memandangi mataku. Aku berkhayal bahwa temu ini bukan layaknya temu-temu yang biasa seperti dulu. Tolong katakan kalimat apapun yang belum pernah aku mendengarnya dari mulut yang di atasnya ada kumis tidak terlalu tebalmu. Rasaku menguat akanmu, detak jantungku berantakan. Buat sinkronisasi udara tidak beraturan dengan paru-paruku. Andai saja kamu bisa melihat rasa yang tak cukup masuk ke rongga dadaku ini. Mungkin kamu akan mengasihaniku.
Tinggal tiga langkah lagi untuk kaki kita bersapa, aku masih sempat mengamati detil-detil dari semuamu. Sepatu convers warna merah marun, jaket jins, tas ransel Polo, serta dua buku kesusastraan di tangan kananmu. Ah rupanya kamu sedang membawa dua buku yang tempo hari aku pinjamkan itu. Barangkali kamu sudah menyelesaikannya dan mau mengembalikan Sepotong Senja untuk Pacarku dan Burung-Burung Manyar milikku. Senang sekali rasanya memiliki sesuatu yang ada bekas-bekas sidik jarimu. Apalagi bisa memiliki sidik-sidik itu, maksudku memilikimu sekalian. Begitu.
Dua langkah lagi, satu langkah, dan.. kita sekarang berhadapan. Tolong berikan aku kalimat yang belum pernah aku mendengarnya darimu. Meskipun kamu memiliki dua kesalahan terhadapku namun aku tetap mencintaimu. Kesalahan pertama ada pada frekuensi wajahmu yang terlalu sering masuk ke otakku, dengan seizinku. Kamu benar-benar menyiksa fikirku. Lapisan otakku ini tidak terlalu tebal untuk dapat terus memikirkanmu namun aku terus begitu. Yang kedua tentu saja karena kamu yang tak pernah menahu mengenai ras yang aku tidak pernah pancarkan dengan bahasa apapun ke arahmu. Semua angin tentangmu aku jaga rapat-rapat di dalam kantong bajuku. Karena hatiku sudah penuh, tentu saja dengan kekamuan-ku. Kali ini aku tidak mau agresif, aku tidak akan bicara dulu sebelum kamu memulainya. Wajah putihmu pelan-pelan berubah merah padam, ada apa? Ayo katakan sesuatu padaku, sesuatu yang tidak pernah aku mendengarnya dari bibirmu.
“Maukah kamu menciumku?” aku terbelalak.

#katadhyanara

***

Cerpen saya ini bertemakan (bukan judul) "Ciuman" yang menjadi salah satu tulisan terbaik dalam agenda Kampus Fiksi saat Pameran Buku di Gedung Wanita Semarang primo November ini.
Usai pemberian materi oleh Edi AH Iyubenu dari Diva Press dan Gunawan Tri Atmodjo, panitia acara memberikan tema dadakan untuk pelatihan menulis dan kami harus menyelesaikannya dalam satu jam.

Komentar

Postingan Populer