Langsung ke konten utama

Postingan

Hidup Berkah dengan Reksa Dana Syariah

Aku itu suka menabung. Aku suka uang. Kalaupun harus membeli sesuatu aku akan lebih memilih membeli barang ketimbang makanan. Karena entah kenapa melihat dari sisi nilai kekekalan sesuatu buatku adalah hal yang teramat penting. Selama kuliah ada aja rejeki dari kerjaan-kerjaan yang dengan disiplin aku tabung buat niatnya sih segala kebutuhan di masa depan.
Sebagai perempuan berumur 23 tahun, aku mulai gundah perihal kehidupan finansialku. Mungkin karena aku belum menikah ya jadi kepikiran gitu kalau menikah nanti pasti butuh biaya yang nggak sedikit, yaa meskipun sampai sekarang kepikirannya nikah di KUA aja nanti lanjut syukuran sama kerabat terdekat di sebuah restaurantgitu sehingga uang yang harusnya dibuat resepsi pernikahan justru bisa dialokasikan ke berbagai pendanaan lain dalam kehidupan rumah tangga. Bukannya pelit dan terlalu hemat sih, aku memandangnya dari segi prioritas sebuah pesta resepsi itu kok kayaknya di urutan terakhir banget dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Postingan terbaru

Tulus

Pada suatu malam yang hampir larut, aku melangkah masuk ke Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit dekat rumah. Meskipun dalam kondisi yang tidak sehat aku tetap berjalan cepat. Bagiku waktu adalah hal yang penting. Teramat penting. Jadi jika ada yang bertanya apapun mengenai waktuku dan aku menjawabnya dengan santai, saat itulah aku sedang berbohong. Segala sesuatunya aku pikirkan matang-matang. Kalau bisa selesai atau tercapai lebih cepat, apapun itu, aku pasti usahakan.

Di tengah menahan badan yang tidak enak aku bertemu laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali namun ramah. Penuturan kata-katanya juga bagus, terlihat santun, dan...pintar. Setelah dua dokter memeriksaku secara gantian. Dia menghampiriku, mengajukan pertanyaan biasa tentang kesehatan dan aku menjawabnya dengan jawaban yang juga biasa. Hingga tiba-tiba..

"Saya boleh minta nomor kamu nggak?" ucapan itu keluar setelah ia menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak benar-benar gatal.

"Buat apa ya?" aku …

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 75

Memutuskan patah bukan melulu karena ingin sudah, namun bisa jadi perihal teramat cinta yang haruskan dua jadi pisah. Aku rasa Bumi itu mencintaiku, hanya saja salah cara. Ya bagaimana. Biarkan setiap kisah memiliki titiknya sendiri. Aku akan membuat paragraf yang lain.
.
.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti(Tema: Titik)
#katadhyanara
.
@30haribercerita#30haribercerita#30hbc18titik#30hbc1830
.
Lihat fotonya di sini

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 73

Kita ini sebenar-benarnya sama gerak. Namun berbeda arah panah. Aku mencari tetap dan Bumi menuju keluar. Sepertinya tidak akan ada pertemuan. Kecuali jika kita berjalan memutar. Sekarang, hal yang terpenting adalah aku tidak boleh diam. Harus selalu mencipta pergerakan.
.
.
.
.
-bersambung-
.
#RotasiBimasakti(Tema: Pergerakan)
#katadhyanara
.
@30haribercerita#30haribercerita#30hbc18pergerakan#30hbc1828
.
Lihat fotonya di sini

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 72

Tapi aku tetap harus menjalankan rencanaku.
.
Aku memberikan kamera kepada Mars.
.
"Ya sudah kalau tidak mau foto, ambilkan gambarku dengan Merkurius, Mars." Aku mengambil posisi di sebelah Merkurius. Venus menatapku, seakan tahu apa yang mau aku perbuat. Tiba-tiba angin berhembus sedikit, seakan setuju pada hatiku yang berMerkurius. Sepi. Mars mengiyakan permintaanku.
.
"Aku countdown nih ya siap-siap.." Mars agak membungkuk, wajahnya ditaruh tepat di depan preview kameraku. Sial, tidak biasanya aku grogi seperti ini.
.
"Three.."
.
Aku bergaya dengan memasukkan tangan kananku ke saku celana. Menggenggam erat-erat cincin bertuliskan Merkurius di bagian dalam.
.
"Two.."
.
Merkurius di sebelah kiriku mengangkat tangan membentuk logo 'peace' sambil tersenyum, mungkin parasnya cantik seperti biasa. Aku tidak melihatnya karena mataku masih menatap lensa kamera. Meyakinkan diriku bahwa ini tindakan yang tepat.
.
"One!"
.
Aku mengeluarkan cincin dari s…

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 71

Mars kan temanku, seharusnya tidak perlu cemburu.
.
"Mer, hai!" Ah ada Venus juga.
.
"Ven, sini! Aku melambai ke arah Venus. Tidak terasa kita sudah sebesar ini. Venus melambaikan tangannya ke arahku. Tunggu, ada sesuatu yang berkilau. Ya ampun itu cincin mahkota yang aku berikan saat sekolah dasar dulu. Dia masih menyimpannya?
.
"Woy, Plu selamat!" Mars menyalamiku.
.
"Kamu kenal Venus juga Mars, Plu?" Merkurius menanyaiku. Aku menjawabnya dengan senyuman, ada hal-hal yang hanya perlu disimpan karena terlalu panjang jika diceritakan.
.
Ketika seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, itu berarti seseorang tersebut melihatmu spesial dari orang yang tidak diberikannya. Iyalah, dari kecil aku sudah tau bahwa Venus kakak tiriku. Berbahan monel yang aku beli di toko dekat sekolah, aku sengaja memberikan Venus cincin ukuran dewasa saat itu. Agar dia tak langsung memakainya. Agar dia yang memutuskan sendiri kapan cincin itu dipakai. Masa kecil memang membuat k…