Langsung ke konten utama

Postingan

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 55

Tiba-tiba ponselku berbunyi, Mars menelfon.
.
"Udah di bandara Ven? Jangan telat." Di tengah genting karena barusan ditinggal Bumi aku mengangkat telfon dari Mars. Persahabatanku dengan Mars memang paling awet. Aku ingin langsung menceritakan kejadian ini padanya namun belum sampai aku cerita, hatiku semakin tak beraturan ketika..
.
"Oh iya kak Jupiter ngirimin kamu email, dicek ya.."
.
Hah? Email? Buat apa? Tadi waktu aku masih di penginapan memang ada notifikasi email masuk tapi belum aku cek dari siapa. Dalam situasi Bumi menjauh dari arah revolusiku, sepertinya aku akan buka email dari kak Jupiter ketika sudah sampai di Indonesia. Perginya Bumi tanpa pamit barusan membuatku sedikit butuh ketenangan.
.
Aku memandang Pluto, ia masih duduk di bangku yang sama dan menggeleng pelan, mata sipitnya seakan berkata, "Ven jangan lanjutkan lagi, tinggalkan Bumi."
.
Aku putuskan kami harus berangkat ke bandara sekarang, ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini. Usai habiska…
Postingan terbaru

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 54

"Kamu punya ponsel? Tanya saja sendiri." Aku membuang bungkus permen ke tong sampah dan meninggalkannya.
.
.
"Teruntukmu.
.
Hari ini tepat seminggu setelah kelulusan S2.
Sedangkan kita tak pernah membicarakan apapun tentang masa yang barangkali akan benar-benar datang. 
Sampai hari ini sekalipun tidak. 
Bahkan membahas bahwa aku Jupiter, kamu Venus, lalu terletak Bumi dan Mars di antara kita, tidak.
Laju rotasi pertemuan kita memang tak searah. 
Di kala jalur revolusi yang berpapasan, kita saling membelakangi. 
Tidak pernah menemukan waktu yang tepat untuk berpandangan, berbincang tanpa debat, dan hari tanpa musuhan. 
Sedangkan ketika ditarik garis lurus mestinya kita berhadapan, lagi-lagi.
Venusku, kita terhalang matahari.
.
Karena durasi pertemuan yang terlalu sering selama dua tahun ditambah perang dingin setiap hari membuatku sering memikirkan kata-kata yang kamu sampaikan. Barangkali bisa juga dibilang memikirkanmu. Terhadapmu, pemikiranku jadi berubah.
.
Salam hormat,
Dewa Langit y…

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 53

Meskipun aku selalu berbenturan dengan apa yang menjadi prinsip, opini, sudut pandang, atau apapun yang meliputi Venus namun aku selalu kesepian ketika ia tidak masuk kelas. Rasanya seperti ada petir yang hilang dari badai di planetku.
.
Padahal mungkin, aslinya kita bisa berteman. Sebenarnya jika dilihat baik-baik Venus tidak menyakitiku, tidak mencelakaiku, tidak menyerangku. Namun ekskalasi kekesalanku padanya sudah terlanjur optimum. Lewat perdebatan di kelas mengenai teori-teori manajemen pemasaran sejak hari pertama masuk.
.
Aku barusan lulus S1 ketika Venus, Bumi, dan adikku Mars lulus SMP. Usiaku memang berjarak lumayan dengan mereka. Itulah mengapa sebenarnya ketika Venus dan Bumi main ke rumah untuk menemui Mars aku lebih suka berada di kamar. Menekuni bidang fotografi yang aku gemari dengan belajar melalui internet. Aku memang selalu cuek terhadap mereka. Dari sepenglihatanku, aku hanya tahu Mars menyukai Venus di saat Venus menyukai Bumi. Mungkin sebagai kakak yang secara nalu…

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 52

Halo, panggil aku Jupiter. Laki-laki yang paling menyebalkan bagi Venus. Bagiku Venus juga menyebalkan. Sangat menyebalkan. Saat satu kelas di Magister Manajemen dulu setiap hari kami selalu membuat keributan. Dia suka sekali mengatur. Ya aku tahu dia komting di kelas, tapi aku tidak suka gaya sok bosnya. Aku seorang perfeksionis jadi aku tahu mana yang harus dan tidak kulakukan.
.
"Tuan Jupiter yang terhormat, ada baiknya jika sampah permenmu yang jatuh itu dibuang ke tempat sampah." Venus melewati kursi kuliahku sembari mengucapkan itu. Dasar, sempat-sempatnya dia mengomentari bungkus permen di bawah kursiku. Padahal dia baru masuk saat dosen sudah memberikan materi dari setengah jam lalu. Bagaimana bisa kuliah jurusan manajemen tapi tidak pintar mengatur waktu. Seisi kelas menertawaiku. Aku tidak suka ditertawakan, apalagi ini perkara bungkus permen. Orang-orang bisa jadi menilaiku buruk. Aku selalu makan permen ketika kuliah, karena aku masuk kelas malam jadi permen sangat…

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 51

​Bumi membalikkan badannya ke arah meja kami berdua. Masih dengan satu tangan yang diangkat, aku menatapnya dan.. tersenyum!
.
Ia membalas senyumku. Tapi sangat tipis. Aku berdiri, menoleh ke arah pelayan yang berjalan menghampiriku. Pluto berdecak, masih tidak setuju dengan pengharapanku terhadap Bumi selama ini.
.
"يااخي مع choco muffin واحد."
.
Kubilang satu choco muffin sebagai tambahan pesananku. Ia menganggukkan kepala, aku menghampiri meja Bumi dan duduk di depannya. Meninggalkan Pluto yang pasti muak dengan adegan ini. Aku tertegun, di sebelah kertas-kertas yang berserakan dekat laptop ada pulpen warna biru pemberianku saat perpisahan di bandara tiga tahun lalu yang berukir Syaif Al-Ardh, berarti Pedangnya Bumi. Saat kecil akulah yang membujuknya untuk merubah nama panggilan dari Ardy menjadi Bumi karena sama arti. Dan yang mengejutkan lagi, secangkir red velvet di depan Bumi masih penuh. Seperti sengaja belum diminum sedari tadi. Apakah itu berarti Bumi merindui aku?
.
&quo…

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 50

Kenapa kamu memesan sesuatu yang sangat aku sukai? Apakah sebenarnya ada aku di hatimu?
.
Aku sudah berada di depan oh iya namanya Coupa Cafe. Bangunan ini tidak terlalu besar, di bagian depan seluruh dindingnya terbuat dari kaca sehingga orang-orang yang ada di dalam bisa melihat dengan jelas siapa saja yang ada di luar kafe. Namun jika pagi sedang terik begini, aku yang ada dari luar tidak bisa melihat apa-apa di dalam karena matahari memantulkan gambar langit beserta awan di dinding kaca kafe. Barusan ada bapak-bapak berkulit coklat gelap keluar dari kafe dan lonceng di pintu berbunyi. Aku masuk membuka pintu dan lonceng tersebut bersuara lagi. Di dalam hanya ada Pluto dan.. Bumi yang duduk jauh membelakangi pintu. Bagaimana cara aku mulai menyapanya? Kalau sudah lama tidak bertemu begini jadi canggung.
.
Kalaupun kami jadinya sempat mampir ke Makkah untuk mencari Bumi, kami harus mencari informasi dari King Abdullah University of Science and Technology di Thuwal, Makkah agar tahu sela…

Cerita Bersambung #RotasiBimasakti Episode 49

Madinah sangat terik. Rasanya matahari di sini berbeda dari matahari yang ada di Indonesia. Aku terus berjalan menjauhi Al Alya Hotel Rooms and Suites tempat aku dan Pluto menginap seminggu kemarin. Akhirnya sedikit ilmu yang aku punya bisa dimanfaatkan dalam membantu karir om Langit, adik mami. Penerbangan ke Jakarta dari Prince Mohammad Bin Abdulaziz International Airport masih nanti pukul 14.05 Arabian Standard Time (AST), sekarang masih pukul sepuluh jadi kira-kira satu jam lagi kami harus berangkat ke bandara. Meskipun jaraknya hanya 15 kilometer namun lebih baik kami menunggu lama di sana.
.
Pluto lebih dulu ke kafe meninggalkanku. Dia bilang punya firasat ada sesuatu di sana. Intuisi Pluto memang selalu kuat. Selain itu dia juga mau mencari cincin emas 14 karat yang ia beli saat kami jalan-jalan kemarin namun sepertinya jatuh ketika kami mampir ke kafe bergaya vintage yang aku lupa namanya itu semalam. Aku masih berjalan santai, 3 blok lagi lalu belok kanan maka aku akan sampai. …